Selasa, 24 April 2012

Kelas Kata








PERBEDAAN PENDAPAT PARA AHLI  MENGENAI KELAS KATA






Oleh:
Desi Susanti
0913041031













PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNILA
2010







BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya kata adalah satu kesatuan yang utuh yang mengandung arti dan makna. Kata dapat digolongkan ke dalam kelas-kelas yang berbeda-beda yang sering kita sebut dengan kelas kata. Kelas kata termaksuk salah satu permasalahan atau problem yang selalu diperbincangkan dalam analisis bahasa, hal ini karena adanya perbedaan dalam penggolongan/ pengelasan kata oleh para ahli. Paper ini akan membahas mengenai perbedaan pendapat para ahli dalam pengelasan kata tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam paper ini mencakup tenteng:
Ø  Mengapa terjadi perbedaan pendapat dari para ahli dalam pembagian kelas kata?

1.3  Tujuan
Tujuan dari pembuatan paper ini adalah
·         Dapat menjelaskan mengapa terjadi  perbedaan pendapat dari para ahli mengenai pembagian kelas kata.













BAB II
PEMBAHASAN


Perbedaan Pendapat Para Ahli dalam Penggolongan Kelas Kata

Kelas kata atau sering juga disebut dengan jenis kata adalah pengelompokkan atau penggolongan kata untuk menemukan suatu sistem dalam bahasa. Sebagai mana kita ketahui kata merupakan bentuk yang sangat komplek yang tersusun atas beberapa unsur, kata dalam bahasa Indonesia dapat terdiri atas satu suku kata atau lebih.
Bidang kajian mengenai kata banyak diselidiki oleh para ahli, hal ini tentu saja menimbulkan beberapa perbedaan yang menghasilkan teori yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Menurut Saya perbedaan ini ada karena adanya perbedaan sudut pandang antara para ahli yang satu dengan yang lainnya.  Adanya perbedaan konsep dalam pembagian kelas kata oleh para ahli ini menurut saya tentu akan membingungkan pembelajar dan pebelajar, khususnya kita sebagai calon guru Bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk mengatasi kebingungan tersebut, menurut pendapat saya sebaiknya kita mengikuti pengelompokan jenis kata(kelas kata) menurut tata bahasa baku. Karena sebagai mana kita ketahui bahwasanya baku berarti suatu bentuk yang sudah menjadi standar bersama, dan sudah banyak digunakan oleh orang.
            Berikut ini akan kita lihat perbedaan pendapat para ahli yang membagi jenis kata ke dalam beberapa kelompok ada yang membagi menjadi:
  1. tiga belas
  2. lima
  3. empat
  4. tiga

Ibnu Hajar, S.Pd. dalam Ikhtisar Bahasa dan Sastra Indonesia, Beliau membagi kelas kata kedalam tiga belas kelompok yang dilihat berdasar sudut pandang campuran yakni melalui bentuk dan fungsi. Pembagian tersebut sebagai berikut:
  1. Kata Asal
Kata asal adalah kata yang belum berubah dari aslinya. Contoh :berpendidikan  dari kata asal: didik
  1. Kata Bentukan
Kata bentukan(kata jadian) adalah kata yang sudah dibentuk menjadi kata kompleks( afiksasi, reduplikasi, pemajemukan)
  1. Kata Jadian
Kata yang bentuk dasarnya telah mendapat imbuhan(prefiks, sufiks, infiks, konfiks). Contoh: gelegar, keindahan
  1. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang terbentuk karena adanya reduplikasi atau pengulangan. Contoh: rumah-rumah, sayang-menyayangi.
  1. Kata Majemuk
Kata yang telah mengalami penggabungandua kata atau lebih dan menimbulkan makna baru. Contoh: jatuh hati, naik daun
  1. Nomina
Nomina adalah kata yang mengacu pada menusia, benda, dan konsep atau pengertian (segi semantis). Dalam kalimat berpredikat verba, nomina menduduki fungsi subjek, objek atau pelengkap, nomina tidak dapat dijadikan bentuk ingkar tidak, tetapi dengan kata bukan. Contoh: Dokter, gambar, batang.
  1. Adjektiva (Kata Sifat)
Adjektiva adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan oramg, benda, atau binatang. Contoh:  cantik, bagus, penakut.
  1. Verba(kata kerja)
Verba adladh kata yang mengandung maknea dsar tindakan, proses, atau keadaan yang bukan sifat. Contoh : tidur, pergi, mendarat.
  1. Adverbia
Adverbia adalah kata yang memberi keterangan sebagai fungsi dalam kalimat. Contoh: sangat, sedang, sungguh.
  1. Kata Tugas
Kata tugas adalah kata yang hanya memiliki makna gramatikal.
Macam-macam kata tugas:
    1. interjeksi(kata seru) yakni kata ynag mengungkapkan perasaan contoh: sedih, heran. Kagum
    2. artikel yakni kata tugas yan g membatasi makna jumlah nomina. Contoh: sang, sri, para, halo
    3. Konjungsi(kata tugas) yaitu kata yang menghubungkan dua klausa atau lebih. Contoh: dan, atau, tetapi, sesudah, melainkan.
    4. Preposisi yaitu kata yang bertugas sebagai unsure pembentuk frase preposisional. Contoh : bagi, di, ke, karena
  1. Pronomina
Pronominal adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada  nomina lain. Contoh: ia, sini, itu, begini
  1. Kata Sapaan dan Kata Acuan
Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menyapa seseorang, contoh: Dik (adik) sedangkan kata acuan adalah kata yang digunakan untuk pada seseorang. Contoh : Adik, Bapak.
  1. Numeralia
Numeralia adalah kata bilangan yang digunakan untuk menghitung banyaknya maujud(orag, benda, binatang). Contoh: satu. Dua, eka-, catur-, banyak, sedikit.


Prof. Dr. Ida Bagus, M, Pd. Dalam Analisis Kalimat membagi kelas kata menjadi lima, hal ini berdasar pada kategori sintaksis, fungsi, dan arti yaitu:
a.       Nomina
Nomina (kata benda) adalah nama seseorang, tempat atau benda. Berdasar kategori sintaksis nomina tidak punya potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, tetapi memunyai potensi untuk didahului partikel dari( Kridalaksana, 1994). Nomina di sini mencakup pada pronomina dan numeralia. Kridalaksana (1994) mengatakan bahwa pronominal adalah kategori yang berfungsi mengganti nomina. Numenaralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung maujud. Contoh: rumah, begini, beberapa, lima, setengah.
b.      Verba
Verba adalah kata yang menyatakan tindakan(Ramlan, 1991). Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat.  Contoh : lari, meledak.
c.       Adjektiva( Kata Sifat)
Adjektiva adalah kata yang memberiketerangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat(Alwi, 1998). Adjektiva berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat. Contoh meja bundar, mabuk, sakit
d.      Adverbia
Adverbia atau kata keterangan yang dapat mendampingi adjektiva, numenaria, atau pre[osisi dalam konstruksi sintaksis(Kridalaksana, 1994) contoh : lebih, hanya pasti, tentu.
e.       Kata Tugas
Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk dalam nomina, verba, adjektiva, adverbial. Kata tugas hanya memiliki arti gramatokal dan tidak memilii arti leksikal.
Kata tugas dibagi menjadi lima kelompok yaitu(1) preposisi, (2) konjungtor, (3) interjeksi, (4) artikula, dan (5) partikel penegas. contoh: dan, ke, dar, atau, syukur, insya Allah, amboy, hai, sang, dia, -kah, -lah, -pun. -tah.


Nurhadi dalam Tata Bahasa Pendidikan membagi kelas kata menjadi empat berdasar arti dan bentuk yaitu bagaimana arti dari suatu kata tersebut dan pembentukannya.
1.      Kata Benda
Kata benda menurut Gorys Keraf adalah segala kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang+kata sifat contah Ibu yang baik. Di samping itu segala kata yang mengandung morfemterikat ke-an, pe-an, pe-, -en, ke-. Contoh: ke-budayaan, pelaku, makanan, peraturan
2.      Kata Kerja
Kata kerja adalah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan+kata sifat. Contoh : berlari dengan cepat. Kata dasar yang mendapat afika me- dan-kan juga dapat dikelompokan kata kerja. Contoh : mendengarkan, membuat.
3.      Kata Sifat
Kata sifat adalah segala bemtuk kata yang dapat mengambil bentuk re+reduplikasi+nya, serta dapat diperluas
4.      Kata Tugas
Kata tugas adalah kata yang tidak mempunyai arti leksikal, tetapi mempunyai fungsi yang menunjukkan hubungan gramatikal. Menurut Gorys Keraf, kata tugas adalah segala kata yang mempunyai fungsi mengubah kalimat minim menjadi kalimat transformasi. Contoh: dan, tetapi, sudah

Selanjutnya penggolongan kata menurut Struktur Bahasa Rawas oleh Yuslizal Saleh, M. Lestari, Abdul Madjid yang menggolongkan kelas kata berdasar fungsi dibagi menjadi tiga yaitu:
a)      Kata Nomina
Kata Nomina adalah kata yang menduduki fungsi sebagai objek dalam kalimat. Yang termaksuk dalam kelas nomina adalah
·         kata benda meliputi kata ganti orang( ku, kau, kami), kata ganti penunjuk(ini itu), kata penanda(di, ke, dari), kata bilangan(dua, lima). Berdasar kategori, kata benda dapat ditandai dengan awalan PeN-, Ke-, dan akhiran –an. Contoh: penakut, kekasih, minuman.
·         Kata Ganti meliputi kata ganti orang, kata ganti penunjuk, kata ganti benda.
b)      Kata Adjektival
Kata yang tidak menempati kedudukan objek dalam kalimat meliputi kata sifat dan kata kerja.
c)      Kata Partikel
Yaitu semua kata yang tidak digolongkan ke dalam kata nomonaal dan adjectival. Yang termaksud kedalam kelas kata partikel adalah kata penjelas, kata keterangan, kata penanda, kata perangkai, kata tanya, kata seru.

Satu kata dalam penggolangan ini dapat mengalami perpindahan golongan kata(transposisi) apabila kata itu dipakai dalam distribusi yang berlainan. Contoh:
Jika ingin sembuh makan pil ini.
                                   P
Makan pil ini pahit
    P

Kelas kata menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia di bagi menjadi 7 kelas kata. Yang digolongkan berdasar pada bentuk dan fungsi.
1. VERBA
Kita harus menyadari bahwa dalam bahasa Indonesia ada dua dasar yang dipakai dalam pembentukan verba, yaitu dasar yang tanpa afiks tetapi telah mandiri karena memiliki makna, dan bentuk dasar dasar yang berafiks atau turunan. Dari bentuknya verba dapat dibedakan menjadi :
1. verba dasar bebas
Verba dasar yaitu verba yang berupa morfem dasar bebas. Contohnya : duduk, makan, mandi, minum, pergi, pulang,dll.
2. verba turunan
Verba turunan yaitu verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Sebagai bentuk turunan dapat kita jumpai :
a. verba berafiks, contoh :berbuat, terpikirkan.
b. verba bereduplikasi, contohnya : bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan.
c. verba berproses gabungan, contohnya : bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum,
d. verba majemuk, contoh : cuci mata, campur tangan, unjuk gigi.
2. ADJEKTIVA
Adjektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk bergabung:
1. Bergabung dengan partikel tidak,
2. mendampingi nomina
3. di dampingi partikel seperti lebih, sangat, agak.
4. mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er, –if, -i.
5. dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an.
1. Adjektiva dasar.
Contoh : Adil, bagus, deras, langsung, dsb.
2. Adjektiva turunan
Misalnya: terhormat, elok-elok, kesakitan, hewani.
3. Adjektiva Majemuk
Contoh : buta warna, aman sentosa
3. NOMINA
Nomina adalah kategori yang secara sintaksis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Ada beberapa jenis nomina yaitu :
1. nomina dasar
contoh :  batu, radio, kemarin, kertas, udara.
2. nomina turunan
Contoh : keuangan, perpaduan, rumah-rumah
3. nomina paduan leksem
contoh : daya juang, jejak langkah, loncat indah.
4. nomina paduan leksem gabungan
contoh : pengambilalihan, pendayagunaan.
Nominalisasi
Proses nominalisasi adalah proses pembentukan nomina yang berasal dari morfem atau kelas kata yang lain. Proses ini dapat terjadi dengan :
  1. Afiksasi : pembicara, kekasih, anjuran, lautan, kemenagan, keberanian,
  2. Penambahan partikel Si dan Sang didepannya: Si Kancil, si Manis
  3. Proses nominalisasi dengan yang : yang lain, yang manis, yang manja
II.4. PRONOMINA
Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina. Apa yang digantikannya itu disebut antiseden.
Pemakaian Pronomina
  1. Dalam ragam non standar, jumlah pronomina lebih banyak daripada yang terdaftar tersebut, karena pemakaian non standar tergantung dari daerah pemakaiannya.
  2. Dalam bahasa kuno juga terdapat pronomina seperti patik dan baginda
  3. Semua pronomina hanya dapat mengganti nomina orang, nama orang, atau hal-hal lain yang dipersonifikasikan: “Kita sudah kehabisan beras, biarlah saya yang membelinya
II.5. NUMERALIA
Numeralia adalah kategori yang dapat mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, mempunyai potensi untuk mendamingi numerelia lain, dan tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat.
Subkategorisasi
A. Numerelia takrif, yaitu numerelia yang menyatakan jumlah yang tenru. Golongan ini terdiri atas :
1. Numerelia utama (koordinat)
a. bilangan penuh, adalah numerelia utama yang menyatakan jumlah tertentu. Contoh : satu, dua, puluh,ribu. Numerelia utama dapat dihubungkan langsung dengan satuan waktu, harga uang, ukuran panjang, berat, isi,dsb.
b. bilangan pecahan, yitu numerelia yang terdiri dari pembilang dan penyebut, yang diduduki partiker per : dua pertiga
c. bilangan gugus, contoh : likur. Bilangan antara 20 dan 30, misallnya : selikur=21, dualikur 22, lusin=12, gross=144
2. Numerelia tingkat
Adalah numeriliatakrif yang melambangka urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Numerelia. Ke- merupakan prefiks dan Num menyatakan numerelia bilangan. Contoh : - catatan kedua sudah diperbaiki
- Ia orang kedua di departemennya.
3. Numerelia kolektif
Adalah numerelia takrif yang berstruktur : Ke + Num, ber- + N , ber- +mr, ber - + Num R atau Num + - ar. Numerelia kolektif yang berstruktur Ke + Num tempatnya dalam frase selalu mendahului nomina.
Contoh : dipandangnya kedua gadis itu dengan penuh keheranan.
B. Numerelia tak takrif
Numerelia tak takrif adalaah numerelia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya : suatu, beberapa, berbagai, pelbagai, tiap-tiap, sebagaian. Numerelia tidak pernah dibentuk dari kategori lain, tetapi dapat berpindah kelas menjadi verba seperti. Dalam mendua, persatuan, atau menjadi nomina seperti kesatuan, persatuan, perduaan, pertigaan, perempatan.
II.6. ADVERBIA
Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numerelia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Dalam kalimat, Ia sudah pergi, kata sudah merupakan adverbia, bukan karena mendampingi verba pergi, tetapi karena mempunyai potensi untuk mendampingi ajektiva. Jadi sekalian banyak adverbia dapat mendampingi verba dalam konstruksi sintaksis namun adanya verba itu bukan menjadi ciri adverbia. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan karena adverbia merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi.
Ada dua jenis adverbia, yaitu :
1. adverbia intra klausal yang berkonstruksi dengan verba, ajektiva, numerelia, atau adverbia lain.
Contoh : Alangkah, rada-rada, saling
2. adverbia ekstraklausal, yang secara sintaksis mempunyai kemungkinan untuk berpindah-pindah posisi dan secara sintaksis mengungkapkan prihal atau tingkat proposisi secara keseluruhan.
Contoh : barangkali, bukan, justru, memang, mungkin.
II.7. KATA TUGAS
7.1 Batasan dan Ciri Kata tugas
Kata tugas hanya mempunyai arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frase atau kalimat.
Ciri dari kata tugas adalah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasr untuk membentuk kata lain. Jika verba “datang” kita dapat menurunkan kata lain seperti mendatangi, mendatangkan, dan kedatangan. Bentuk-bentuk seperti “menyebabkan” dan “menyampaikan” tidak diturunkan dari kata tugas “sebab” dan “sampai” tetapi dari nomina “sebab” dan verba “sampai” yang bentuknya sama tetapi kategori berbeda. Dan kelas kata tugas merupakan merupakan kelas kata tertutup.
7.2 Klasifikasi Kata Tugas
7.2.1. Preposisi
Ditinjau dari perilaku semantisnya, preposisi juga disebut kata depan menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan konstituen di belakangnya. Ditinjau dari prilaku sintaksisnya, preposisi berada didepan nomina, adjektiva, atau adverbia sehingga terbentuk frase preposisional. Ditinjau dari segi bentuknya, yaitu preposisi tunggal dan mejemuk.
Contoh : akan, bersama, menurut, bagaikan, dari pada, karena, sebab, oleh, tentang, mengenai.
7.2.2 Konjungtor
Dinamakan juga kata sambung, adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat : kata dengan kata, prase dengan prase, atau klausa dengan klausa. Konjungtor dibagi menjadi empat kelompok yaitu :
1. Konjungtor Koordinatif yaitu konjungtor yang menghubungkan dua unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama. Contoh : dan, serta, atau
2. Konjungtor Korelatif yaitu konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, frase, atau klausa yang memiliki status sintaksis sama. Konjungtor korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu kata , frase, atau klausa yang dihubungkan. Contoh : Baik ...maupun, tidak... tetapi
3. Konjungtor Subordinatif yaitu konjungtor subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu merupakan anak kalimat. Dilihat dari perilaku sintaksis semantisnya, konjungtor ini dibagi menjadi tiga belas kelompok, yaitu :
a. Konjungtor subordinatif waktu, misalnya : sejak, semenjak, sedari, sewaktu,
b. Konjungtor subordinatif Syarat, misalnya : jika, kalau, jikalau, bila,
c. Konjungtor subordinatif pengandaiaan, contohnya : andaikan, umpamanya.
d. Konjungtor subordinatif konsesif, misalnya : biarpun, sekalipun.
e. Konjungtor subordinatif pembandingan, contohnya : seakan-akan, seperti,
f. Konjungtor subordinatif sebab, misalnya : sebab, karena, oleh sebab.
g. Konjungtor subordinatif hasil, misalnya : sehingga, sampai.
h. Konjungtor subordinatif alat, misalnya : dengan, tanpa.
i. Konjungtor subordinatif cara, misalnya : dengan, tanpa.
j. Konjungtor subordinatif komplementasi, misalnya : bahwa.
k. Konjungtor subordinatifatribut, misalnya : yang.
l. Konjungtor subordinatif perbandingan, misalnya : sama...dengan, lebih....dari
4. Konjungtor antar kalimat yaitu konjungtor antar kalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain. Karena itu, konjungtor macam ini selalu memulai kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Contoh : Biarpun begitu, akan tetapi
7.2.3 INTERJEKSI
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Secara stuktural, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, interjeksi ada yang berupa bentuk dasar dan ada yang berupa bentuk turunan. Berikut janis interjeksi dapat dikelompokan menurut perasaan yang diungkapkannya, sebagai berikut :
1. Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih, idih.
2. Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat.
3. Interjeksi kekaguman atau kepuasan : aduhai, amboi, asyik.
4. Interjeksi kesyukuran : syukur, alhamdulillah
5. Interjeksi harapan : insya allah.
6. Interjeksi keheranan : aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh, ah.
7. Interjeksi kekagetan : astaga, astagfirullah, masyaallah.
8. Interjeksi ajakan : ayo, mari.
9. Interjeksi panggilan : hai, be, eh, halo.
10. Interjeksi simpulan : nah.
7.2.4 ARTIKULA
Artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Dalam Bahasa Indonesia ada kelompok artikula, yaitu : artikula yang bersifat gelar, yang mengacu makna kelompok, dan yang menominalkan.
1. Artikula yang bersifat gelar
Artikukla yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang yang dianggap bermartabat. Berikut ini jenis-jenis artikula yang bersifat gelar : sang, sri, hang, dang
2. Artikula yang mengacu ke makna kelompok.
Atikula yang mengacu ke makna kelompok atau makna korelatif adalah para. Karena artikula ini mengisyaratkan ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah “para guru” dan bukan “para guru-guru”.
3. Artikula yang menominalkan.
Artikula “si” yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau genetik, bergantung pada konteks kalimat.
7.2.5 PARTIKEL PENEGAS
Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas yaitu: -lah, -kah, -tah, dan pun. Tiga yang pertama berupa klitika sedangkan yang keempat tidak.


























BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pembagian kelas kata terdapat beberapa pendapat para ahli yang enghasilkan perbedaan dalam penggolongannya. Hal ini karena adanya perbedaan sudut pandang dalam menentukan pengelompokan tersebut ada yang berdasar  pada bentuk, fungsi dan arti. Seperti yang tertera pada tabel di bawah ini:
Ahli
Kelas Kata
Sudut Pandang
Ibnu Hajar, S. Pd
Prof. Dr. Ida Bagus Putraya, M. Pd.

Nurhadi
Yuslial Saleh, M. Lamsari, Abdul Madjid
Hasan Alwi, dkk
13
5

4
3
7
Bentuk dan fungsi
Sintaksis
Fungsi dan arti
Arti dan Bentuk
Fungsi
Bentuk dan fungsi





















DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan., Soenjono Dardjowidjojo, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hajar, Ibnu. Ikhtisar Bahasa dan Sastra Indonesia
Nurhadi. Tata Bahasa Pendidikan. Semarang: IKIP Press
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Analisis Kalimat. Retika Aditama
Saleh, Yuslizal, Lamsari, dkk. 1984. Struktur Bahasa Rawas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar