Senin, 30 April 2012

SINGKATAN DAN AKRONIM







SINGKATAN DAN AKRONIM DALAM BAHASA



Mata kuliah   : Morfologi
Dosen              : Drs. Imam Rejana, M. Si.






Oleh:
Desi Susanti
0913041031















PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNILA
2010








KATA PENGANTAR



Puji syukur kahadirat Tuhan YME, karena atas rahmat-Nya Saya dapat menyelesaikan paper ini. Paper ini sebagai tugas akhir Morfologi yang membahas mengenai singkatan dan akronim.
Singkatan dan akronim tentu sudah tidak asing dari pendengaran kita. Dalam kehidupan sehrai-hari kadang juga kita mengunakannya. Namun hal ini justru menimbulkan permasalahan karena rusaknya penstrukturan dari singkatan tersebut. Peper ini akan membahas tentang permasalahan tersebut.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Drs. Imam Rejana, M.Si atas bimbingan yang telah diberikan dan kepada teman-teman yang telah membantu penyelesaian paper ini.
Saya menyadari paper ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang bersifat membangun saya harapkan


Bandar Lampung, 1 Januari 2010


Penulis








DAFTAR ISI



HAL JUDUL……..……..……..………..…..…….……..……..……..……..….. i
KATA PENGANTAR……..……..……..…..……..…………..……..……..…… ii
DAFTAR ISI……..……..……..……..…..……..……..……...…..……..……. iii
I Pendahuluan……..……..…..……..……..……..……..…........…..……..……. 1
1.1  Latar Belakang ……..………..……..…..…….……..……..……..……..….. 1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................................ 1
1.3  Tujuan.............................................................................................................. 1
II Pembahasan ……..………..……..……..……..……..……..……..……............ 2
2.1 Pengertian dari singkatan................................................................................. 2
2.2 Pengertian Akronim.......................................................................................... 3
2.3 Permasalahan Singkatan dan Akronim Bahasa................................................ 4
III Kesimpulan.....……..……..……..……..….........……..……..……..……..… 12
DAFTAR PUSTAKA…..……..……..……..……..……..……..……..…......... 13








                              







I.          PEMBAHASAN



1.1         Latar Belakang
Bahasa merupakan sistem bunyi yang arbter  yang konvensional. Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari. Dalam berkomunikasi kadang kita menggunakan singkatan dan akronim agar mempermudah komunikasi baik komunikasi langsung maupun komunikasi tak langsung(SMS, email, dan sebagainya). Namun hal ini justu menimbulkan masalah dalam penstrukturan singkatan dan akronim dlam bahasa. Paper ini akan memabahas permasalahan-permasalahan tersebut.
1.2         Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari pembuatan paper ini adalah
a.       Apa pengertian dari singkatan?
b.      Apa pengertian dari akronim?
c.       Permasalahan dalam penggunaan singkatn dan akronim?
1.3         Tujuan
Tujuan dari pembuatan makaalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah morfoligi juga untuk:
a.       Mengetahui pengertian dari singkatan
b.      Mengetahui pengertian dari akronim
c.       Mengetahui permasalahan dalam penggunaan singkatan dan akronim






II.                PEMBAHASAN



2.1              Singkatan
Istilah singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya dipendekkan. Yang bermaksud untuk mempermudah. Menurut tiga cara sebagai berikut:
·         Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih, tetapi yang bentuk lisannya sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya.
Misalnya:
m         yang dilisankan           menter
ml        yang dilisankan           mililiter
cos       yang dilisankan           cosinus

·         Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan huruf demi huruf.
Misalnya:
DDT    (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan d-d-t
kV       Ikilovolt-ampere) yang dilisankan k-v-a
TL       (tube luminescent) yang dilisankan t-l

·         Istilah yang dibentuk dengan menanggalkan sebagian unsurnya.
Misalnya:
Ekspres            (yang berasal dari kerta api ekspres)
Harian             (yang berasal dari surat kabar harian)
Kawat             (yang berasal dari surat kawat)
Lab                  (yang berasal dari laboratorium)
Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih.
·         Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.Contoh: Dr. Bambang
·         Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan/organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh :DPR, PGRI
·         Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik setelah masing-masing huruf. Contoh :dll.
·         Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing tidak diikuti tanda titik. Contoh : Cu(kuprum)

2.2              Akronim
Istilah akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
1.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh: ABRI(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
2.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh: Akabri(Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
3.      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil. Contoh: pemilu( pemilihan umum)
Contoh lain dari akronim yaitu:
laser     (light amplification by stimulated emission of radiation)
radar    (radio detectiang and ranging)
sonar    (sound navigation ranging)
tilang   (bukti pelanggaran)

2.3              Permasalahan penggunaan singkatan dan akronim dalam bahasa

Singakatan dan akronim sering kita gunakan dalam berkomunikasi hal ini dipengaruhi oleh pola pikir yang semakin maju dan adanya bahasa gaul, bahasa yang digunakan pada sinetro n di TV, dan bahasa SMS. Namun bahasa sekarang telah dirusak oleh adanya sinetron. Hal ini akan kita bahas pada paper ini.
Sebelum kita berajak kepermasalahan-permasalahan tersebutmarikita bahas sedikit mengenai akronim yang sering digunakan dan dibuat oleh masyarakat.
Penggunaan akronim memang sah-sah saja digunakan dalam sebuah tulisan, asalkan pembaca bisa memahami arti dari akronim tersebut, karenanya banyak orang  menyarankan agar akronim tidak diletakkan pada judul kecuali untuk akronim yang memang sering digunakan.
Selama masa kampanye sering kali Akronim seakan menjadi trademark yang  memudahkan masyarakat mengenal pasangan calon pemimpin mereka. Contoh:
pasangan Hade dalam Pilgub Jawa Barat beberapa waktu lalu. Satu yang menarik dari  penggunaan akronim ini adalah penggunaan akronim yang berarti baik atau bagus.  Mungkin semua itu terkait sukses Hade yang berarti baik atau bagus dalam bahasa Sunda seakan menjadi akronim yang paling banyak dipakai para pasangan calon.
Begitu juga dengan Polemik soal iklan Pemilu satu putaran terus bergulir. Eskalasi polemik makin menguat menyusul diungkitnya iklan-iklan itu oleh Jusuf Kalla dalam seri terakhir Debat. Tak hanya itu, polemik akhirnya berujung pada munculnya kembali istilah lama yang dulu pernah beraura mengerikan: GESTAPU!
Akronim Gestapu dengan mudah membangkitkan ingatan kolektif masyarakat tentang peristiwa 1965. Dan, dalam struktur kolektif bangsa Indonesia, segala hal yang  tersangkut dengan komunisme, PKI dan 1965 masih menyisakan problem yang belum tuntas, stigma yang mengerikan, dan kadang fobia yang menakutkan, juga berlebihan. 15. NB: Istilah G30S/PKI atau kadang disingkat Gestapu sendiri sebenarnya keliru karena penculikan dan pembunuhan para jenderal itu terjadi pada dini hari, sehinga tanggal sudah berganti menjadi 1 Oktober 1965. Itu sebabnya Soekarno keukeuh menggunakan istilah Gestok, bukan Gestapu. Orde Baru yang ³mengabsahkan´ akronim Gestapu.

Bahasa Nasional Indonesia Dirusak Sinetron

Bahasa yang diucapkan oleh artis-artis sinetron dilayar kaca merusak bahasa nasional Indonesia. Sebab banyak kata yang diucapkan bercampur dengan bahasa asing terutama Inggris.  Hal itu diungkapkan dua mahasiswa Univeristas Gadjah Mada (UGM), Dhinar Arga  Dumadi dan Analisa Widyaningrum kepada wartawan di kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (12/12/2008).
Dua mahasiswa jurusan Sastra Perancis angkatan 2008 dan Psikologi angkatan 2007 berhasil meraih juara pertama sebagai Duta Bahasa Indonesia tingkas Nasional 2008  yang diikuti wakil generasi muda berusia antara 18-25 tahun itu.
"Salah satu contohnya adalah bahasa yang diucapkan oleh artis Cinta Laura," kata
Widyaningrum
Menurut Widya, gaya dan ucapan berbahasa Cinta Laura itu sudah salah. Namun justru banyak masyarakat yang senang dan kemudian menirukannya. Selain bahasa yang campur-campur, ada banyak ungkapan bahasa atau cara tutur kata yang seharusnya tidak  ditayangkan dalam acara tersebut.
"Ucapan yang patah-patah dan sengau itu justru banyak orang yang senang kemudian  meniru, tapi itu salah dan dapat merusak bahasa kita," ungkap Widya.
Widya dan Dhinar berhasil mengalahkan 25 peserta lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam lomba yang digelar 20-27 Oktober itu, keduanya harus melalui berbagai tahapan ujian seperti kemampuan bahasa Indonesia, bahasa asing dan  daerah. Mereka juga harus membuatan makalah serta penyajiannya di hadapan dewan juri dari Pusat Bahasa.
Widya menyampaikan makalah judul, 'Bahasa Sinetron Sebagai Pemicu Rusaknya Jati Diri Bangsa.' Dalam makalahnya itu mereka menyoroti dampak dari penggunaan bahasa  Indonesia terhadap perilaku/kesopanan dan psikologis bagi masyarakat dan anak pada khususnya.
"Bahasa sinetron kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya
masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau
kepingin dikatakan modern," katanya.
Selain itu, ungkapan-ungkapan bahasa dalam sinetron itu banyak pula yang dipraktekkan  di masyarakat. Padahal banyak ungkapan-ungkapan bahasa yang cendrung kasar dalam tayangan itu. Efek yang paling parah banyak anak kecil yang menirukannya setelah melihat tayangan itu.
"Hal ini secara psikologis menyebabkan efek negatif bagi anak karena bahasanya yang kasar dan tidak sopan," imbuh Dhinar.

Bahasa sinetron
Dalam berkomunikasi melalui media bahasa, verbal maupun non verbal. Terkadang kita terjebak pada pemahaman tentang membahasakan gerak kita, kalimat selau disamakan dengan bahasa, bibir dan lidah dijadikan symbol penguatan terhadap pengungkapan satu maksud. Perlu  dipertanyakan ³bagaimana kabarnya kata hati?´ terkadang hal-hal yang tidak diungkapkan  dengan lidah merupakan suatu kejujuran dari kejujuran itu sendiri. Dalam satu kutipan puisi
dituliskan; Lidah ini terlalu sering menzalaimi hati, Ampuni kami Tuhan, kami lupa, Bermimpipun kami memerlukan Bahasa´.
Mengenai bahasa, ada satu peristiwa yang terekam saat penulis mendengar seorang berbicara kepada dosen,  tiba-tiba di tengah perbincangan terdengar satu kalimat yang sebenarnya sangat populer tetapi ganjil juga didengar so what gitu lho, Pak. Pergeseran-pergeseran dari segi berbahasa ini, sesungguhnya mampu menjadi motor penggerak  perubahan, baik pada sikap prilaku dalam pergaulan sehari-hari, menjadi identitas seseorang (Anak Gaul, Funky, Supel, dll), karena bahasa adalah salah satu dari komponen perubahan. Jika diteliti lebih mendalam, kaitannya dengan pengkombinasian bahasa ini, banyak ide-ide  kreatif yang mampu dimunculkan. Seperti lahirnya Kamus Gaul ala Debby sahartian. Yang
beberapa tahun belakangan ini begitu populer kita dengar. Hal ini diyakini tidak semata-mata lahir dari ruang kosong belaka. Seorang Debby telah mampu membentuknya tidak sekadar menjadi bahasa yang layak praktik, namun bahasa gaul sendiri telah mampu memberikan suatu identitas bagi komunitas yang kita sebuat sebagi komunitas gaul´. Merambah, membentuk  suatu tatanan kelas sendiri. Bahkan dikota-kota besar pada umumnya seperti jakarta bahasa gaul
telah menjadi bahasa wajib bagi mereka yang menyebut dirinya Anggota Komunitas gaul´  Dalam karyanya Humain Trop Humain, Nietzsche mengatakan bahasa menjadi penting dalam  perkembangan peradaban, karena manusia menemukan di dalamnya dunia bagi dirinya,suatu tempat yang dianggapnya cukup kokoh untuk dijadikan tumpuan manakala ia membebaskan unsur-unsur duniawi lainnya dari kungkungan dan menguasainya´.
Maka, kesimpulannya setiap orang berhak untuk mengkreasikan bahasa menjadi sepopuler mungkin. Tanpa harus selalu latah meniru bahasa populer sinetron atau bahasa gaul ala Debby. Karena perbendaharaan bahasa daerah kitapun kaya untuk di kombinasikan menjadi bahasa slank  yang nyaman untuk di ekspresikan dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga kita tidak selalu kehilangan identitas personal dalam laju kemajuan teknologi dan peradaban global.


Bahasa SMS

Apakah Short Message Service atau yang biasa disingkat dan dilafalkan SMS merupakan sebuah  pesan singkat atau sebuah pesan yang ditulis dengan singkatan-singkatan? Selanjutnya apakah 'bahasa' SMS yang demikian itu: penuh singkatan-singkatan, kaya simbol, selipan bahasa asing  (Inggris) dan ketidaklengkapan tanda baca dapat merusak bahasa Indonesia yang baik dan benar?
Untuk menjawab pertanyaan ini cerpenis dan novelis Naning Pranoto
dalam bukunya yang berjudul Creative Writing, jurus-jurus menulis kreatif dan efektif. Bahwa bahasa SMS adalah sebuah model penulisan dengan materi yang aneh, yang hanya ditangkap dan dimengerti oleh 'kalangan sendiri', yakni antara mereka (mungkin saya dan anda) yang mengerti singkatan-singkatan, simbol-simbol tersebut.
Saya memberi satu contoh bahasa SMS yang malam tadi masuk kehandphone saya:
“ u ge pa? Dah bo2 lumz”
(kamu lagi apa? Sudah bobo belum)
Kekayaan simbol, bentuk penulisan yang menggunakan banyak singkatan justru menunjukkan sebuah keunikan dan kekhasan bahasa SMS dan bagi saya sama sekali tidak bertentangan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Toh...pesan yang mau disampaikan jelas terbaca, kendatipun untuk mencerna agak sulit dan butuh waktu. Kendati demikian, jawaban tersebut masih mentah buat seorang murid yang masih mau belajar. Dan bagi saya merupakan sebuah tantangan untuk memperlajarinya lebih lanjut. Dan saya berpikir para pembaca punya pandangan dan gagasan yang 'jitu' untuk menjawab dua pertanyaan ini?

Di kalangan remaja, pemakaian campuran kata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia  sering ditemukan. Masalah menjadi bertambah ketika penulisan kata bahasa Inggris yang belum  secara resmi dibahasaindonesiakan ditulis dengan ejaannya pada lafal bahasa Indonesia. Remaja  melakukan ragam dalam penulisan tersebut sebab memiliki beberapa dorongan seperti agar dikatakan memiliki kreatifitas, gaul, dan berpengetahuan luas. Para remaja juga sering mengombinasikan huruf abjad dengan angka. Hal ini jelas dapat menimbulkan kesulitan pada  penerima pesan. Sebagi contoh berikut ini:
“5af ganggu, u ge d mana?????????”( maaf ganggu, kamu lagi di mana?)
“ Q ge OTW k HumZ”(Aku lage on the way ke Home)
“ yasud TT DJ yach, C U”(ya sudah hati-hati di jalan ya)

Contoh  bahasa sms di atas sangat membingungkan jika yang membaca tidak paham arti dari penyimbolan, singkatan-singkatan pada sms”
Contoh dari akronim dan singkatan lainnya:
MBA               : Merrid By Accident
NOKIA           : Nikah Ogah Kawin Ia
TTDJ               : Hati-hati di jalan
RCTI               : Rasa Cinta Tapi Isin
Salah satu dari singkatan tersebut ada yang salah dalam pembuatannya seperti pada NOKIA dan TTDJ serta RCTI karena dalam penyingkatannya tidak sesuai dengan kaidah, sedang pada RCTI adanya sisipan bahasa asing.
Dan masih banyak lagi akroim dan singkatan dalam kehidupan sehari-hari yang biasanya terpengaruh oleh bahasa gaul orang zaman sekarang.

















III.             KESIMPULAN



Akronim dan singkatan digunakan untuk mempermudah komuikasi, namun dalam kehidupan sehari-hari baik dalam komunikasi langsung, sms, atau FB, penyingkatan sering terpengaruh oleh bahasa gaul yang menimbulkan kesalahan dalam penstrukturan.
Yang perlu diperhatikan adalah dalam pembuatan akronim dan singkatan kita harus tetap memperhatikan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.






DAFTAR PUSTAKA



Alwi, Hasan., Soenjono Dardjowidjojo, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hajar, Ibnu. Ikhtisar Bahasa dan Sastra Indonesia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar